![]() olif Female Indonesia orang telah berkunjung dan membaca kisahku.
|
"Sesuatu tidak selalu kelihatan sebagaimana adanya." Kadang2 itulah yang kita rasakan ketika kita berpikir bahwa sesuatu tidak seharusnya terjadi. Jika kita punya iman, kita hanya perlu percaya sepenuhnya bahwa semua hal yang terjadi adalah demi kebaikan kita. Kita mungkin tidak menyadari hal itu sampai saatnya tiba. "Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia baik bagimu dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia buruk bagimu" [al-baqarah : 216] "Hiduplah seolah-olah apa yang kita miliki hanyalah hari ini saja. Kemarin telah berlalu dengan segala kebaikan dan keburukannya, sedangkan hari esok belum tentu tiba. Rentang kehidupan kita hanyalah satu hari, seolah-olah kita dilahirkan di awal hari itu dan akan mati di akhir hari itu pula." "Sungguh, Dia itu dekat ketika kita dekati, Dia itu Maha Mendengar ketika diseru, dan Dia menjawab ketika diminta, maka rendahkanlah diri anda dihadapan-Nya dan memohonlah kepada-Nya dengan setulus hati. Ucapkanlah terus menerus nama-Nya yang penuh berkah dan katakan kepada-Nya hanya Dia yang berhak untuk disembah." "Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana" [Luqman : 27]
Arum ; Code ; Code-b ; Destia ; Dwidoria ; Farid ; Goha ; Iien ; Himura ; Lisna ; Muse ; Mercu-IT ; Muse-b ; Orange ; Phyta ; Putri ; |
Slank - Cinta Maaf .. Setelah kau sakiti .. Lalu bilang maaf
*Saat ini .. hanya ingin teriak sekenceng-kencengnya .. biar merasa puas .. biar merasa lega .. "apa sih, sebenarnya mau lo?" datang dan pergi sesuka hati .. berhasil menyembuhkan luka, mengobatinya .. namun kemudian malah memperparahnya lagi ..
don't let me wait too long in a uncertainty ... Surat dari Seorang Akhwat : Untukmu Wahai Ikhwan Yang Akan Ta'aruf (by: Ummu 'Aisy Bintu Ilham) Bismillah... Izinkan aku bicara dari hati seorang wanita, yang mungkin bisa mewakili suara saudara-saudaraku, para akhwat pada umumnya. Proses "taaruf" merupakan suatu proses awal menuju proses selanjutnya, yaitu khitbah dan akhirnya sebuah pernikahan. Memang tidak semua sukses sampe tahap itu. Sang Sutradaralah yang mengatur. Semua adalah skenario dan rekayasaNya. Manusia hanya berencana dan ikhtiar, keputusan tetap dalam genggamanNya. Tapi kita manusia juga diberi pilihan. Hidup adalah pilihan. Mau baik ato buruk, mau syurga or neraka, mau sukses ato gagal, semua adalah pilihan. Namun tetap Allah Yang Maha Menentukan. Aku ingin titip pesan pada para ikhwan yang sdh memutuskan hendak melontarkan perkataan "taaruf" pada seorang akhwat; Bagi para ikhwan, pikirkanlah baik-baik, matang-matang, dan masak-masak sebelum menawarkan sebuah jalinan bernama "taaruf". Jangan mudah melontarkannya jika tak ada komitmen dan kesungguhan untuk meneruskannya. Mengertilah keadaan akhwat. Antum tahu, bahwa sifat kaum hawa itu lebih sensitif. Akhwat mudah sekali terbawa perasaan. Disadari atau tidak, diakui atau tidak, akhwat adalah makhluk yang kadang mudah sekali GeEr, suka disanjung, suka diberi pujian apalagi diberi perhatian lebih. Jadi saat kata "taaruf" atau mungkin khitbah itu keluar dari lisan seorang lelaki baik dan sholih seperti antum, tak ada alasan bagi akhwat untuk menolak. Karena jika akhwat menolak tanpa alasan yang jelas, maka hanya fitnah yang ada. Jadi, tolong tanyakan lagi pada diri antum, apakah kata-kata itu memang keluar dari lubuk hati antum yang terdalam? Apakah antum sudah memohon petunjuk kepada yang Maha Menguasai Hati? Apa antum benar-benar siap (ilmu, iman, mental, fisik, materi, dll) untuk menjalin ikatan suci bernama pernikahan? Sekali lagi, berhati-hatilah dengan kata ta’aruf. Karena "taâruf"adalah gerbang menuju pernikahan. Proses "taaruf" menuju pernikahan memerlukan sebuah rentang waktu tertentu. Bila diibaratkan "taaruf" adalah pintu halaman ruman antum dan pernikahan adalah pintu rumah antum, kemudian timbul pertanyaan, berapa jauhkah jarak pintu gerbang menuju pintu rumah antum? padahal selama perjalanan akan banyak cobaan menghadang. Bunga-bunga indah di halaman rumah antum bisa membuat akhwat terpesona. Kolam ikan yang indah juga membuat akhwat terlena. Ingin sekali akhwat memetiknya, ingin sekali akhwat berlama-lama di sana menikmati keindahan dan kenikmatan yang antum sajikan. Tapi tdk berhak, karena belum mendapat izin dari si empunya rumah. Akhwat ingin segera mencapai sebuah keberkahan, tapi di tengah jalan antum menyuguhkan keindahan-keindahan yang membuat akhwat lupa akan tujuan semula. Lebih menyakitkan lagi jika antum membuka gerbang itu lebar-lebar dan akhwatpun menyambut panggilan antum dengan hati berbunga-bunga. Tapi setelah akhwat mendekat dan sampai di depan pintu rumah antum, ternyata pintu rumah antum masih tertutup. Bahkan antum tak berniat membukakannya. Saat itulah hati akhwat hancur berkeping-keping. Setelah semua harapan terangkai, tapi kini semua runtuh tanpa sebuah kepastian. Atau mungkin antum akan membukakannya, tapi kapan? Antum bilang jika saatnya tepat. Lalu antum membiarkan akhwat menunggu di teras rumah antum dengan suguhan yang membuat akhwat kembali terbuai, tanpa ada sebuah kejelasan. Jangan biarkan akhwat berlama-lama di halaman rumah antum jika memang antum tak ingin atau belum siap membukakan pintu untuknya. Akhwat akan segera pulang karena mungkin saja salah alamat. Siapa tahu rumah antum memang bukan tempat berlabuhnya hati mereka. Ada rumah lain yang siap menjadi tempat bernaung mereka dari teriknya matahari dan derasnya hujan di luar sana. Mereka tak ingin mengkhianati calon suami mereka yang sebenarnya. Di istananya ia menunggu calon bidadarinya. Menata istananya agar tampak indah. Sementara mereka berkunjung dan berlama-lama di istana orang lain. Akhi, sebelum ijab qobul itu keluar dari lisan antum, cinta adalah cobaan. Cinta itu akan cenderung pada nafsu. Cinta itu akan cenderung untuk mengajak berbuat maksiat . Itu pasti! Langkah-langkah syetan yang akan menuntunnya. Kita tentunya tdk mau memakai label "taaruf" untuk membungkus suatu kemaksiatan bukan? Hati-hatilah dengan hubungan "taaruf" yang menjelma menjadi TTM (Taaruf Tapi Mesra). Tolong hargai akhwat sebagai saudara antum. Akhwat bukan kelinci percobaan. Akhwat punya perasaan yang tidak berhak antum buat "coba-coba". Pikirkanlah kembali. Mintalah petunjukNya. Jika antum memang sudah siap dan merasa mantap, segera jemput mereka. Dan satu lagi yang perlu antum perhatikan adalah bagaimana cara antum menjemput. Tentunya kita menginginkan kata berkah di awal, di tengah, sampai di ujung pernikahan kan? Hanya ridho dan keberkahanNya lah yang menjadi tujuan. Pilihlah cara yang tepat dan berkah. Antum sudah merasa mantap pada akhwat itu. Antum yakin seyakin-yakinnya bahwa dialah bidadari yang akan menghias istana antum. Tapi antum tidak menggunakan cara yang tepat untuk menjemputnya. Sama halnya jika antum yakin dan mantap untuk menuju Surabaya. Tapi dari Jakarta antum salah memilih kendaraan, akibatnya antum gak akan pernah sampai ke Surabaya, malah nyasar. Ato kendaraannya sudah bener tapi nggak efektif. Terlalu lama di perjalanan. Masih keliling-keliling dulu. Akhirnya banyak waktu terbuang percuma selama perjalanan. Jadi, antum juga harus memikirkan cara yang baik/ahsan, tepat dan berkah agar bahtera rumah tangga antum berjalan di atas ridho dan keberkahanNya. Semoga pesan ini bisa menjadi bahan renungan antum, para ikhwan, calon qowwam kami (para akhwat) dalam mengarungi bahtera rumah tangga Islami yang akan melahirkan generasi penyeru dan pembela agama ALLAH. Akhirnya aku minta maaf, afwan jiddan bila dalam pesan ini ada hal-hal yg kurang akhsan.. by: Ummu 'Aisy Bintu Ilham Terilhami dari : http://akhwatzone.multiply.com Disadur dari: http://umuazzam.multiply.com/journal/item/38 dengan sedikit gubahan..
yang ku tahu ... Bentuk jiwa kini telah berubah Berbaur dengan hati dan badan roh yang ada Dipayungi langit jingga, ku coba berlari dan terus saja berlari Aku sendiri tak tahu kemana arah dan tujuannya Bagiku .. semua jalan terasa sama Yang hanya ku tahu .. "Aku telah tersesat sebelumku mulai melangkah" *dikelas .. sms5 pak Nixon..
Say what you wanna say (“My Confession”) ”Kenapa harus ada kata berpisah? Kenapa dua pasang jiwa tak bisa selamanya bersama? Ketika Tuhan menciptakan pertemuan, maka Tuhanpun menciptakan perpisahan. Walaupun kutau pasti tak ada yang kekal abadi. Ada kalanya ketika diri ini merasakan sesuatu, disaat itu pula semuanya hilang. Memori, kata yang digunakan untuk satu hal yang tidak akan pernah bisa terlupakan. Begitu adanya dirimu, bayangmu selalu hidup didalam kenanganku, karena kutahu dengan pasti bahwa aku mencintaimu. Hati ini benar-benar kuserahkan padamu, walaupun mungkin kau takkan pernah tahu. Namun akan selalu dan selalu kusimpan, ku kunci didalam pintu hatiku. Aku belajar, bahwa cinta adalah ketika kita memberikan kebahagiaan pada seseorang tanpa pernah sekalipun mengharapkan balasan. Aku ingin kau bahagia dalam hidupmu.. Walau ku harus menangis, namun aku berani berkata bahwa aku bahagia ketika kaupun berbahagia. Memang ini yang pertama bagiku, namun ini yang termanis dan ku yakin bahwa kau yang terakhir. Walau banyak yang datang, namun dirimu tak pernah hilang. Cinta membuatku tertawa walau hati ini menangis, dan cinta membuatku berani melangkah menghadapi dunia, dan khusus yang terakhir.. jujur ku berkata, bahwa hal itu masih sulit tuk dilakukan. Masih harus ku belajar.. Kemungkinan, harapan, ku yakin hal itu ada, walau mungkin sangat tipis terasa. Telah banyak waktu kulewati, dan takkan pernah bisa terbayar dengan apapun. Penantian ini, akankah berakhir dengan kekecewaan atau bahkan mungkin suatu kebahagiaan. Namun, dalam kamus hatiku tak ada istilah kecewa, semua kulakukan dengan tulus dan bahagia, walau terkadang air mata mulai jatuh, namun tetap ku bermimpi indah. Begitulah adanya diriku, dan itu yang akan tetap kulakukan. Pernah ku dengar satu pernyataan, bahwa ada tiga macam orang yang melakukan sesuatu dengan mimpinya. Yang pertama, ia akan mengejar dan berusaha mewujudkannya. Kedua, ia akan membuangnya tanpa pernah berpikir untuk meraihnya. Lalu yang terakhir, ia akan diam dan membawa mimpi itu sampai akhir hidupnya, tanpa satu orangpun mengetahuinya. Dan seorang sahabat pernah berkata, bahwa aku ini orang yang bodoh dengan memilih pernyataan yang ketiga. Karena ku tahu, kaupun sebenarnya tahu dan merasa, namun kau tetap berpaling dan menganggap semuanya tidak ada. Namun tak dapat kubantah, bahwa memang terkadang kuingin melupakanmu, menyingkirkan bayangan dirimu dari dalam pikiranku. Tapi semua itu sulit untuk kulakukan. Karena satu hal, dan ku tahu pasti. Bahwa kau takkan mungkin tergantikan” Namun itu beberapa tahun yang lalu, sekarang ia baru menyadari tindakannya. Bahwa selama ini apa yang telah ia lakukan, dengan hanya menunggu dan menunggu telah membuatnya lelah .. Ya, lelah.. suatu kata yang sebenarnya Inka percaya takkan pernah bisa dirasakannya. Puncaknya yaitu ketika ia mengenal seorang pria yang bernama Irul. Mungkin apa yang dirasakannya pada Irul tak sekuat perasaannya terhadap Raka, mengingat memang hatinya masih saja tertutup untuk pria lain. Inka tak pernah menyangka bahwa hubungan yang selama ini ia pikir baik-baik saja dengan Irul, akan berakhir dengan keadaan yang Inka sendiri benar-benar tak habis pikir dibuatnya. Semua seperti karma baginya, ketika semua berbalik padanya.. ia benar-benar merasa tak percaya. Pelajaran, mungkin itu yang dirasakannya.. pelajaran hati, pelajaran jiwa.. pelajaran bagaimana menata hati dan menyampaikannya. Kejadiannya dengan Irul membuatnya bercermin. Dulu, ia pernah mengatakan bahwa akan menyatakan perasaannya pada Raka pada saat Raka akan menikah .. namun Tuhan berkehendak lain ketika semuanya berbalik pada Inka. Irul menyatakan perasaannya ke Inka ketika dirinya akan menikah. Sebenarnya, dengan kehadiran Irul, Inka berharap dapat sembuh dari “penyakit kronis Raka”. Inka berharap bisa membina satu hubungan baru dengan pria baru yang dapat membantunya untuk melupakan Raka. Dan dengan pelajaran itu, Inka menjadi lebih berani untuk mengungkapkan apa yang selama ini dia rasakan pada Raka. Perasaan yang sudah lama dipendamnya. Dirinya tak membenci Irul, walau memang ia merasa dibohongi, dikhianati .. Inka tak pernah bertanya pada Irul “Mengapa? atau Bagaimana?”. Karena Inka sadar, hal itu percuma saja dilakukannya, Irul telah mengambil keputusan, dan dirinya tak bisa melakukan apa-apa untuk mencegahnya. Seperti yang dia rasakan, mungkin ini karma baginya. Walau Inka tak pernah percaya pada istilah “karma” itu sendiri. Tapi satu hal yang ia yakini, bahwa kejadiannya dengan Irul merupakan satu peringatan, satu teguran untuknya. Satu pelajaran yang membuatnya berani untuk mengambil langkah selanjutnya, tanpa ragu, tanpa penyesalan di kemudian harinya. ”Saat ini.. Telah kucoba tuk menjalani hidup ini dalam diam, dalam kebisuan.. Sampai akhirnya aku kalah, bayang-bayangmu selalu ada menghantui hidupku, dan aku merasa bahwa aku tak bisa terus menyimpannya, perasaan ini harus ku katakan, ku ungkapkan.. Padamu.. ya.. Padamu.. Aku hanya memohon bantuanmu atas perasaanku ini.. untuk menyimak, untuk membaca, untuk mendengarkanku.. Itu saja 3thn yg lalu rasa ini mulai ada, tumbuh dan berkembang.. Kupikir aku bisa melupakannya.. Ku terus mencoba .. mencoba dan mencoba .. tapi semakin aku berusaha, semakin sakit kurasa cuma kamu .. yang bisa membuatku merasakan cinta cuma kamu .. yang bisa membuatku belajar ikhlas pada apa yang ada cuma kamu .. yang mampu menyentuh hatiku membuat diriku dapat merasakan suatu rasa yang bernama rindu, cinta dan sayang lewat pernyataan ini aku tak ingin apa-apa aku hanya ingin mengungkapkan semua rasa yang sudah lama ada.. ingin jujur, baik padamu maupun pada diriku sendiri.. tak perlu menjawab dan ku harap tak ada yang berubah karena aku hanya ingin mengungkapkan semua.. kupikir, dengan aku berterus terang, aku dapat menjalani semuanya dengan tenang, tanpa harus bertanya-tanya, tanpa harus merasa ada sesuatu yang mengganjal didada dan terakhir .. terima kasih untuk pelajaran cinta yang kau berikan.. walau mungkin kau tak pernah merasakan seperti apa yang kurasakan.. terima kasih” Dengan mengungkapkan semuanya, Inka sudah tak berharap apa-apa, karena Inka tahu bahwa ia memang harus berhenti berharap. Inka memang mencintai Raka, tapi ia juga sadar bahwa ia juga harus mencintai dirinya sendiri. Dirinya sadar, bahwa ia tak bisa terus menerus memikirkan Raka dan menutup hati untuk orang lain yang datang. Stop jadi manusia bodoh, capek dan lelah rasanya. Inka menyadari, bahwa dengan mengungkapkan semuanya, pasti akan menyebabkan sesuatu yang berbeda .. jarak antara dirinya dan Raka. Namun Inka juga tak pernah menyesal telah melakukannya. Karena ia tahu dan percaya .. dengan mengatakannya, dirinya bisa moved on .. bisa melangkah menuju hari yang lebih baik lagi (walaupun tanpa Raka di sisinya) Kalau kau benar-benar merasa sayang terhadap seseorang, jangan diam saja .. perjuangkan cintamu sampai kau benar-benar merasa lelah .. Karena waktu tak dapat diputar kembali, jadi jangan sampai kau menyesal karena tak pernah mengungkapkannya “Aku tak ingin terus terdiam memandangi harapan Terlena akan manis cinta dan berujung kecewa Aku tak ingin terus menunggu sesuatu yang tak pasti Lebih baik kita menangis dan terluka hari ini” # …inspired by John Mayer “Say” and Maliq “Coba Katakan”… #
Between "Keinginan" and "Kebutuhan" "Terkadang semua yang kau harapkan, tak semuanya kau dapatkan.. Tapi pasti itu yang kau butuhkan" Ketika keinginan-keinginan kita tidak juga terpenuhi dan doa-doa yang selalu kita panjatkan tidak kunjung dikabulkan Tuhan, apa pernah kita berpikir bahwa semua itu Dia lakukan demi kebaikan kita? Kita selalu merasa yakin bahwa kita mengetahui apa yang kita butuhkan. Tapi kebutuhan seringkali keliru dengan keinginan, dan hal-hal yang kita inginkan .. tapi tidak kita butuhkan .. kadang merupakan penyebab dari kejatuhan kita. Tentu saja, jika kita dapat melihat apa yang disimpan oleh masa depan untuk kita, kita tidak akan pernah salah dalam mengajukan sebuah keinginan. Tapi masa depan adalah hal yang tersembunyi dari pandangan kita .. benang takdir seseorang terbentang jauh melebihi dunia kasat mata, kita tidak dapat melihat kemana ia akan berujung. Siapakah yang dapat mengetahui bahwa kenikmatan pada hari ini dapat membawa kesedihan di keesokan hari, atau kesedihan pada hari ini akan membuahkan kenikmatan dihari esok?
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||