Entry: Say what you wanna say (“My Confession”) Wednesday, May 06, 2009



 

”Kenapa harus ada kata berpisah? Kenapa dua pasang jiwa tak bisa selamanya bersama? Ketika Tuhan menciptakan pertemuan, maka Tuhanpun menciptakan perpisahan. Walaupun kutau pasti tak ada yang kekal abadi. Ada kalanya ketika diri ini merasakan sesuatu, disaat itu pula semuanya hilang. Memori, kata yang digunakan untuk satu hal yang tidak akan pernah bisa terlupakan. Begitu adanya dirimu, bayangmu selalu hidup didalam kenanganku, karena kutahu dengan pasti bahwa aku mencintaimu. Hati ini benar-benar kuserahkan padamu, walaupun mungkin kau takkan pernah tahu. Namun akan selalu dan selalu kusimpan, ku kunci didalam pintu hatiku.

Aku belajar, bahwa cinta adalah ketika kita memberikan kebahagiaan pada seseorang tanpa pernah sekalipun mengharapkan balasan. Aku ingin kau bahagia dalam hidupmu.. Walau ku harus menangis, namun aku berani berkata bahwa aku bahagia ketika kaupun berbahagia.

Memang ini yang pertama bagiku, namun ini yang termanis dan ku yakin bahwa kau yang terakhir. Walau banyak yang datang, namun dirimu tak pernah hilang.

Cinta membuatku tertawa walau hati ini menangis, dan cinta membuatku berani melangkah menghadapi dunia, dan khusus yang terakhir.. jujur ku berkata, bahwa hal itu masih sulit tuk dilakukan. Masih harus ku belajar.. Kemungkinan, harapan, ku yakin hal itu ada, walau mungkin sangat tipis terasa. Telah banyak waktu kulewati, dan takkan pernah bisa terbayar dengan apapun. Penantian ini, akankah berakhir dengan kekecewaan atau bahkan mungkin suatu kebahagiaan. Namun, dalam kamus hatiku tak ada istilah kecewa, semua kulakukan dengan tulus dan bahagia, walau terkadang air mata mulai jatuh, namun tetap ku bermimpi indah. Begitulah adanya diriku, dan itu yang akan tetap kulakukan.

Pernah ku dengar satu pernyataan, bahwa ada tiga macam orang yang melakukan sesuatu dengan mimpinya. Yang pertama, ia akan mengejar dan berusaha mewujudkannya. Kedua, ia akan membuangnya tanpa pernah berpikir untuk meraihnya. Lalu yang terakhir, ia akan diam dan membawa mimpi itu sampai akhir hidupnya, tanpa satu orangpun mengetahuinya. Dan seorang sahabat pernah berkata, bahwa aku ini orang yang bodoh dengan memilih pernyataan yang ketiga.

Karena ku tahu, kaupun sebenarnya tahu dan merasa, namun kau tetap berpaling dan menganggap semuanya tidak ada. Namun tak dapat kubantah, bahwa memang terkadang kuingin melupakanmu, menyingkirkan bayangan dirimu dari dalam pikiranku. Tapi semua itu sulit untuk kulakukan. Karena satu hal, dan ku tahu pasti. Bahwa kau takkan mungkin tergantikan”

 

Namun itu beberapa tahun yang lalu, sekarang ia baru menyadari tindakannya. Bahwa selama ini apa yang telah ia lakukan, dengan hanya menunggu dan menunggu telah membuatnya lelah .. Ya, lelah.. suatu kata yang sebenarnya Inka percaya takkan pernah bisa dirasakannya. Puncaknya yaitu ketika ia mengenal seorang pria yang bernama Irul. Mungkin apa yang dirasakannya pada Irul tak sekuat perasaannya terhadap Raka, mengingat memang hatinya masih saja tertutup untuk pria lain. Inka tak pernah menyangka bahwa hubungan yang selama ini ia pikir baik-baik saja dengan Irul, akan berakhir dengan keadaan yang Inka sendiri benar-benar tak habis pikir dibuatnya. Semua seperti karma baginya, ketika semua berbalik padanya.. ia benar-benar merasa tak percaya.

Pelajaran, mungkin itu yang dirasakannya.. pelajaran hati, pelajaran jiwa.. pelajaran bagaimana menata hati dan menyampaikannya. Kejadiannya dengan Irul membuatnya bercermin. Dulu, ia pernah mengatakan bahwa akan menyatakan perasaannya pada Raka pada saat Raka akan menikah .. namun Tuhan berkehendak lain ketika semuanya berbalik pada Inka. Irul menyatakan perasaannya ke Inka ketika dirinya akan menikah. Sebenarnya, dengan kehadiran Irul, Inka berharap dapat sembuh dari “penyakit kronis Raka”. Inka berharap bisa membina satu hubungan baru dengan pria baru yang dapat membantunya untuk melupakan Raka.

Dan dengan pelajaran itu, Inka menjadi lebih berani untuk mengungkapkan apa yang selama ini dia rasakan pada Raka. Perasaan yang sudah lama dipendamnya. Dirinya tak membenci Irul, walau memang ia merasa dibohongi, dikhianati .. Inka tak pernah bertanya pada Irul “Mengapa? atau Bagaimana?”. Karena Inka sadar, hal itu percuma saja dilakukannya, Irul telah mengambil keputusan, dan dirinya tak bisa melakukan apa-apa untuk mencegahnya. Seperti yang dia rasakan, mungkin ini karma baginya. Walau Inka tak pernah percaya pada istilah “karma” itu sendiri. Tapi satu hal yang ia yakini, bahwa kejadiannya dengan Irul merupakan satu peringatan, satu teguran untuknya. Satu pelajaran yang membuatnya berani untuk mengambil langkah selanjutnya, tanpa ragu, tanpa penyesalan di kemudian harinya.

 

”Saat ini.. Telah kucoba tuk menjalani hidup ini dalam diam, dalam kebisuan.. Sampai akhirnya aku kalah, bayang-bayangmu selalu ada menghantui hidupku, dan aku merasa bahwa aku tak bisa terus menyimpannya, perasaan ini harus ku katakan, ku ungkapkan.. Padamu.. ya.. Padamu.. Aku hanya memohon bantuanmu atas perasaanku ini.. untuk menyimak, untuk membaca, untuk mendengarkanku.. Itu saja

3thn yg lalu rasa ini mulai ada, tumbuh dan berkembang..

Kupikir aku bisa melupakannya.. Ku terus mencoba .. mencoba dan mencoba .. tapi semakin aku berusaha, semakin sakit kurasa

cuma kamu .. yang bisa membuatku merasakan cinta

cuma kamu .. yang bisa membuatku belajar ikhlas pada apa yang ada

cuma kamu .. yang mampu menyentuh hatiku

membuat diriku dapat merasakan suatu rasa yang bernama rindu, cinta dan sayang

lewat pernyataan ini aku tak ingin apa-apa

aku hanya ingin mengungkapkan semua rasa yang sudah lama ada.. ingin jujur, baik padamu maupun pada diriku sendiri..

tak perlu menjawab dan ku harap tak ada yang berubah

karena aku hanya ingin mengungkapkan semua.. kupikir, dengan aku berterus terang, aku dapat menjalani semuanya dengan tenang, tanpa harus bertanya-tanya, tanpa harus merasa ada sesuatu yang mengganjal didada

dan terakhir .. terima kasih untuk pelajaran cinta yang kau berikan.. walau mungkin kau tak pernah merasakan seperti apa yang kurasakan..

terima kasih”

 

Dengan mengungkapkan semuanya, Inka sudah tak berharap apa-apa, karena Inka tahu bahwa ia memang harus berhenti berharap. Inka memang mencintai Raka, tapi ia juga sadar bahwa ia juga harus mencintai dirinya sendiri. Dirinya sadar, bahwa ia tak bisa terus menerus memikirkan Raka dan menutup hati untuk orang lain yang datang. Stop jadi manusia bodoh, capek dan lelah rasanya.

Inka menyadari, bahwa dengan mengungkapkan semuanya, pasti akan menyebabkan sesuatu yang berbeda .. jarak antara dirinya dan Raka. Namun Inka juga tak pernah menyesal telah melakukannya. Karena ia tahu dan percaya .. dengan mengatakannya, dirinya bisa moved on .. bisa melangkah menuju hari yang lebih baik lagi (walaupun tanpa Raka di sisinya)

 

Kalau kau benar-benar merasa sayang terhadap seseorang, jangan diam saja .. perjuangkan cintamu sampai kau benar-benar merasa lelah .. Karena waktu tak dapat diputar kembali, jadi jangan sampai kau menyesal karena tak pernah mengungkapkannya

 

“Aku tak ingin terus terdiam memandangi harapan

Terlena akan manis cinta dan berujung kecewa

Aku tak ingin terus menunggu sesuatu yang tak pasti

Lebih baik kita menangis dan terluka hari ini”

 

 

# …inspired by John Mayer “Say” and Maliq “Coba Katakan”… #

   0 comments

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments